Grobogan // FAKTA88.CO.ID // Jawa Tengah – Proyek pembangunan Pertashop Desa (Pertades) di Desa Boloh, Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, yang awalnya digadang-gadang sebagai solusi pemerataan akses energi, kini hanya menyisakan bangunan kosong tak terawat.
Memasuki tahun 2026, fasilitas yang seharusnya vital bagi warga setempat ini tercatat telah mangkrak selama hampir delapan tahun, sejak resmi dibangun namun tidak kunjung beroperasi penuh pada tahun 2018.
Kondisi ini menciptakan dilema berkepanjangan bagi ratusan kepala keluarga di Desa Boloh. Warga yang membutuhkan bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite, Pertamax, maupun Solar, terpaksa harus menempuh perjalanan yang cukup jauh ke SPBU terdekat, mengorbankan waktu dan biaya ekstra yang seharusnya dapat dihemat jika Pertades berfungsi normal. Impian warga untuk mendapatkan kemudahan akses BBM di desa mereka pun kini sirna.
Temuan Mengejutkan Tim Investigasi Laskar Merah Putih
Situasi terbengkalainya Pertades ini menarik perhatian berbagai pihak, termasuk tim investigasi dari Laskar Merah Putih Markas Daerah Provinsi Jawa Tengah. Saat melakukan peninjauan langsung ke lokasi pada pekan ini, tim investigasi menemukan fakta yang memprihatinkan dan mengkhawatirkan.
Di sekitar area fasilitas Pertades, tim menemukan berserakan beberapa botol minuman keras beralkohol. Temuan ini sontak memunculkan dugaan kuat bahwa lokasi proyek yang seharusnya menjadi fasilitas publik tersebut kini disalahgunakan fungsinya.
"Kami menemukan beberapa botol miras di lokasi. Ini mengindikasikan bahwa tempat ini, yang seharusnya bermanfaat bagi warga, justru beralih fungsi menjadi lokasi kumpul-kumpul untuk minum minuman keras," ungkap salah satu anggota tim investigasi. Dugaan ini menambah daftar panjang permasalahan yang melingkupi proyek Pertades Boloh.
Sekdes Angkat Bicara: Klarifikasi dari Pihak Desa
Menanggapi carut-marut kondisi ini, awak media berhasil mewawancarai Sekretaris Desa Boloh, Bapak Sugiyanto. Beliau memberikan keterangan resmi terkait status proyek tersebut saat ditemui di kantor desa.
Pada Kamis, 15 Januari 2026, Bapak Sugiyanto angkat bicara dan membenarkan bahwa fasilitas Pertades tersebut memang belum beroperasi secara optimal sejak lama. Ia menjelaskan bahwa ada kendala teknis dan administrasi yang menyebabkan proyek tersebut tertunda operasionalnya hingga bertahun-tahun.
"Memang benar Pertades ini sudah lama tidak jalan sebagaimana mestinya. Ada beberapa hal yang menjadi penghambat, yang sedang kami upayakan solusinya bersama pihak terkait," ujar Sugiyanto, tanpa merinci detail kendala yang spesifik. Pihak desa, lanjutnya, menyadari penuh dampak ketidakberfungsian ini terhadap mobilitas dan ekonomi warga desa setempat.
Menanti Solusi di Tengah Kebutuhan Mendesak
Mangkraknya Pertades di Desa Boloh ini menjadi contoh nyata kompleksitas pembangunan infrastruktur di tingkat desa. Di satu sisi, ada kebutuhan mendesak dari warga untuk mendapatkan akses BBM yang mudah dan terjangkau, sesuai dengan semangat awal pendirian Pertashop.
Di sisi lain, proses perizinan, pengelolaan, dan operasional yang tersendat, ditambah kini adanya isu penyalahgunaan tempat, membuat harapan warga semakin jauh dari kenyataan.
Warga Desa Boloh kini hanya bisa berharap agar pemerintah daerah, Pertamina, dan pihak desa segera duduk bersama mencari solusi konkret. Pengaktifan kembali Pertades tidak hanya akan menjawab kebutuhan dasar energi warga, tetapi juga mengembalikan fungsi fasilitas publik sebagaimana mestinya dan mencegah lokasi tersebut menjadi area negatif di lingkungan desa.



Social Footer