Breaking News

Titik Terang Pencarian Syafiq: Korban Hilang Gunung Slamet Ditemukan Tak Bernyawa di Pos 7 Jalur Malang


Pemalang // FAKTA88.CO.ID // Jawa Tengah – Suasana penuh kesedihan menyelimuti komunitas pendakian tanah air, bahkan merambah hingga berbagai kalangan masyarakat Indonesia yang mendengar kabar tragis ini. Setelah melalui proses pencarian yang panjang dan melelahkan selama lebih dari dua pekan lamanya, korban yang sebelumnya dinyatakan hilang, yaitu Syafiq Ridhan Ali Razan (18 tahun), akhirnya ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa di kawasan lereng puncak selatan Gunung Slamet pada hari Rabu, tanggal 14 Januari 2026.

Jasad pemuda yang berasal dari Kota Magelang, Jawa Tengah tersebut berhasil ditemukan oleh tim pencari dan penyelamat yang telah bekerja keras selama berhari-hari. Lokasi penemuan berada di area Watu Langgar, yang secara administratif termasuk dalam wilayah Kecamatan Gunung Malang, Kabupaten Pemalang. Kabar penemuan ini tidak hanya menyebar secara cepat melalui mulut ke mulut atau media sosial, melainkan juga dikonfirmasi secara resmi dan langsung oleh Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pemalang, Bapak Agus Ikmaludin. Dalam keterangan pers yang disampaikannya kepada sejumlah awak media yang hadir di lokasi koordinasi pencarian, beliau menyampaikan dengan nada penuh kesedihan, ”Jenazah yang kami cari selama ini – yang sebelumnya kami harapkan masih dapat ditemukan dalam kondisi selamat – telah ditemukan di area Watu Langgar pada hari Rabu pagi ini, setelah melalui upaya pencarian yang sangat intensif dari berbagai pihak.”

Senada dengan pernyataan dari Kepala BPBD Kabupaten Pemalang, Bapak Sutrisno yang menjabat sebagai Kepala Desa Clekatakan juga memberikan konfirmasi lebih lanjut terkait kebenaran informasi penemuan tersebut. Menurutnya, informasi tentang lokasi penemuan jasad telah melalui proses verifikasi yang cermat, dengan lokasi spesifik berada tepat di Pos 7 jalur pendakian Gunung Malang – salah satu jalur yang sering digunakan oleh para pendaki yang ingin menjelajahi keindahan Gunung Slamet dari arah Pemalang.

Peristiwa yang mengakibatkan kehilangan nyawa pemuda berusia belasan tahun ini bermula pada malam hari Sabtu, tanggal 27 Desember 2025. Pada saat itu, Syafiq memutuskan untuk melakukan pendakian ke Gunung Slamet bersama rekannya yang sudah akrab dengannya, Himawan Haidar Bahran. Kedua pemuda ini memilih untuk menggunakan metode pendakian yang dikenal dengan sebutan ”tektok” atau dalam bahasa yang lebih mudah dimengerti adalah metode pendakian langsung naik dan langsung turun tanpa melakukan aktivitas berkemah di tengah perjalanan atau di kawasan puncak. Metode pendakian semacam ini memang sering dipilih oleh sebagian pendaki yang memiliki pengalaman cukup dan ingin menghemat waktu, namun juga memiliki risiko tersendiri jika tidak didukung oleh persiapan yang matang dan kondisi medan yang mendukung.

Namun, apa yang seharusnya menjadi perjalanan pendakian yang menyenangkan dan penuh kebersamaan berubah drastis menjadi situasi darurat yang penuh ketegangan. Saat berada di Pos 5 jalur pendakian, rekannya yaitu Himawan mengalami kejadian tidak diinginkan, yakni cedera pada bagian kaki yang membuatnya tidak dapat melanjutkan perjalanan atau bahkan bergerak dengan leluasa. Dalam kondisi yang penuh keprihatinan dan dengan niat mulia yang tulus untuk menyelamatkan rekannya yang sedang dalam kesusahan, Syafiq dengan penuh keberanian memutuskan untuk turun dari lokasi tersebut sendirian guna mencari bantuan dari pihak luar atau tim penyelamat. Sayangnya, keputusan yang dibuat dengan tujuan baik ini justru membawa konsekuensi yang sangat tragis. Sejak hari Senin, tanggal 29 Desember 2025, Syafiq tidak dapat lagi dihubungi dan hilang tanpa jejak, sementara Himawan sendiri berhasil ditemukan dalam kondisi selamat oleh tim Search and Rescue (SAR) pada hari berikutnya setelah kejadian, yaitu hari Selasa (30/12/2025). Himawan kemudian mendapatkan penanganan medis yang diperlukan dan kini dalam kondisi yang sedang membaik.

Di balik perjalanan keberangkatan Syafiq yang akhirnya berakhir tragis ini, terdapat fakta yang cukup menarik sekaligus membuat hati semakin terasa berat dan menyedihkan. Kakak kandung korban, Bapak Naufal Hisyam (24 tahun), dalam wawancara yang dilakukan oleh awak media setelah kabar penemuan jasad adiknya tersebar, menyampaikan bahwa awalnya Syafiq telah meminta izin kepada keluarga untuk pergi melakukan pendakian ke Gunung Sumbing – bukan Gunung Slamet. Keluarga baru menyadari bahwa Syafiq sebenarnya berada di kawasan Gunung Slamet setelah melihat unggahan foto yang diunggah oleh Syafiq sendiri atau teman seperjalanannya di akun media sosial, dengan latar belakang basecamp pendakian Gunung Slamet yang jelas terlihat. Hal ini menunjukkan bahwa kemungkinan besar Syafiq telah mengubah rencana pendakiannya secara mendadak tanpa memberitahukan kepada keluarga terdekatnya.

Berdasarkan dugaan sementara yang disampaikan oleh pihak tim SAR dan BPBD setelah melakukan pemeriksaan awal terhadap lokasi penemuan serta melakukan analisis terhadap kondisi medan sekitar, Syafiq diduga telah kehilangan arah saat ia sedang dalam perjalanan untuk mencari bantuan dan melintasi kawasan Pos 3 jalur pendakian. Ia disinyalir telah salah mengambil percabangan jalur yang ada di lokasi tersebut, saat ia sedang berusaha mencari tempat pertolongan atau jalan yang benar dalam kondisi medan yang sangat sulit – dengan lereng yang curam, vegetasi yang lebat, dan kemungkinan juga kondisi cuaca yang tidak mendukung pada saat itu.

Hingga saat informasi ini disampaikan, tim SAR gabungan yang terdiri dari berbagai elemen – antara lain petugas BPBD, TNI, Polri, relawan komunitas pendakian, serta sukarelawan dari berbagai daerah – masih terus berjibaku dengan penuh tekun untuk melakukan proses evakuasi jasad Syafiq dari lokasi penemuan menuju ke tempat yang lebih aman dan dapat dijangkau oleh sarana transportasi darat. Lokasi penemuan yang berada di antara jalur pendakian Gunung Malang dan jalur Baturraden memang dikenal luas memiliki kontur medan yang sangat menantang, dengan lereng yang curam dan jalan setapak yang tidak rata, sehingga proses evakuasi menjadi pekerjaan yang membutuhkan ketelitian, kecepatan, namun juga keamanan yang tinggi agar tidak menimbulkan kejadian tidak diinginkan lainnya.


Kabar pertama tentang penemuan jasad korban ini pertama kali mencuat dan menyebar dengan sangat cepat melalui unggahan yang dilakukan oleh akun Instagram resmi @slametviabambangan – salah satu akun yang sering berbagi informasi terkait pendakian ke Gunung Slamet melalui jalur Bambangan. Segera setelah unggahan tersebut muncul, akun tersebut langsung dibanjiri oleh berbagai komentar dari para pendaki dan masyarakat umum di seluruh Indonesia yang menyampaikan ucapan duka yang mendalam kepada keluarga yang ditinggalkan oleh Syafiq. Banyak yang menyampaikan doa agar jiwa almarhum dapat ditempatkan di sisi yang terbaik oleh Sang Pencipta dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan serta kesabaran dalam menghadapi kehilangan yang sangat menyakitkan ini.

Type and hit Enter to search

Close