SUSUKAN // FAKTA88.CO.ID // Jeritan hati dan amarah warga Susukan benar-benar meledak! Sudah tiga hari berlalu sejak tragedi mengerikan ambrolnya pondasi maut milik raksasa korporasi PT Wild Bear Technology, namun hingga Jumat (10/04/2026), pihak perusahaan dituding sengaja "buang muka" dan membiarkan para korban hidup dalam penderitaan tanpa kepastian.
Tim Investigasi yang terjun langsung ke medan bencana menemukan fakta yang mencengangkan sekaligus menyayat hati. Salah satu korban paling parah, Saudara berinisial N, bersama warga lainnya harus menelan pil pahit melihat tanah dan bangunan mereka hancur lebur diterjang malapetaka ini.
Arogansi Korporasi: Masuk Lahan Korban Tanpa Izin!
Bukannya datang membawa bantuan dan itikad baik untuk meminta maaf, PT Wild Bear Technology justru dinilai melakukan tindakan yang sangat provokatif. Pada hari ini, Jumat, 10 April 2026, sejumlah tenaga kerja PT nekat menerobos dan beraktivitas di dalam lahan milik warga tanpa mengantongi izin dari pemilik tanah yang sah.
Tindakan nekat dan ilegal ini dinilai warga sebagai bentuk pelecehan terhadap hak kepemilikan tanah. Secara hukum nasional, aksi "serobot" lahan ini dapat dijerat sanksi pidana berlapis:
Pasal 167 ayat 1 KUHP tentang memaksa masuk ke pekarangan tertutup milik orang lain secara melawan hukum (ancaman pidana penjara).
Pasal 406 KUHP tentang perusakan barang atau properti milik orang lain.
Pasal 1365 KUH Perdata mengenai Perbuatan Melawan Hukum (PMH) dengan tuntutan ganti rugi materil yang masif.
Detik-Detik Mencekam: Getaran Hebat Hancurkan Pintu Jendela Rumah!
"Kami benar-benar dirugikan secara ekstrem! Memang tidak ada nyawa yang melayang, tapi lihat lahan kami! Pintu rumah saya sampai jebol dan rusak parah dihantam getaran dahsyat saat pondasi itu ambrol!" ungkap N dengan nada tinggi menahan amarah yang membuncah.
Penderitaan warga tidak berhenti di situ. Lahan pertanian yang menjadi urat nadi ekonomi mereka kini lenyap, terkubur hidup-hidup oleh material batu puing raksasa. Parahnya lagi, bencana ini memicu air bah bercampur lumpur pekat yang menenggelamkan wilayah tersebut.
Amarah Memuncak: 3 Kali Dihantam Banjir Tanpa Ganti Rugi!
Warga masyarakat kini sudah berada di puncak kegilaan dan kegeraman. Bagaimana tidak? Wilayah mereka tercatat sudah 3 KALI dihantam bencana banjir serupa akibat proyek ini, namun hingga detik ini kompensasi yang dijanjikan hanyalah isapan jempol belaka! Sama sekali nol besar!
Gerah dengan sikap acuh tak acuh perusahaan, para korban kini kompak menyuarakan genderang perang. Mereka mengancam keras akan segera menempuh JALUR HUKUM dan menyeret semua pihak yang bertanggung jawab jika tidak ada tindakan nyata dalam waktu dekat!
Adu Alibi dan Saling Lempar Tanggung Jawab!
Drama semakin memanas saat Tim Investigasi mengonfirmasi sosok berinisial Y yang mengaku baru saja mengundurkan diri (resign) dari perusahaan. Dengan nada dingin, ia membongkar bahwa ganti rugi banjir gelombang pertama baru menyentuh satu orang warga saja, yaitu inisial Nr. Sisanya? Kurang paham, Ia pun langsung melempar bola panas ini ke petinggi PT berinisial D.
Di sudut lain, perwakilan PT Wild Bear Technology, Saudara Deni, mencoba memberikan pembelaan yang dinilai warga sangat klasik. Deni berdalih bahwa rumah Saudara Nur sebenarnya sudah diberi kompensasi pada kasus banjir terdahulu, dan masalah dengan pihak Agung Motor sudah beres (clear).
Namun, Deni tidak bisa mengelak bahwa hak rumah milik inisial I hingga kini masih digantung tanpa realisasi! Menanggapi mengapa korban pondasi ambrol (Saudara N) belum ditemui, Deni berdalih dengan alasan yang membuat warga semakin meradang: "Korban tidak pernah ada di rumah saat didatangi."
Padahal, tepat pada malam kejadian yang mencekam itu, Ketua RT 05, Kepala Dusun (Kadus), hingga aparat Babinsa sudah mendatangi kantor PT untuk menuntut keadilan secara langsung!
Hingga berita ini disiarkan secara nasional, warga korban reruntuhan pondasi dan banjir lumpur masih terlunta-lunta menanti tanggung jawab nyata. Akankah hukum menggilas raksasa PT Wild Bear Technology, atau jeritan warga Susukan kembali menguap begitu saja? Kita kawal sampai tuntas! ****
Tim investigasi





Social Footer