Kegiatan budaya tersebut dihadiri langsung Kepala Desa Wolo, Suyantono, beserta jajaran perangkat desa, perwakilan dari Pemerintah Kecamatan Penawangan, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan ratusan warga Desa Wolo yang memadati kompleks Balai Desa sejak siang hingga malam hari.
Kepala Desa Wolo, Suyantono, menegaskan bahwa Pemerintah Desa Wolo tetap berkomitmen penuh melestarikan tradisi Sedekah Bumi sebagai warisan leluhur yang digelar rutin setiap tahun. “Sedekah Bumi bukan sekadar seremonial. Ini adalah wujud rasa syukur kami kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rezeki, hasil panen, keselamatan, dan kerukunan warga Desa Wolo. Tradisi ini akan terus kami jaga seperti tahun-tahun sebelumnya,” tutur Suyantono.
Rangkaian acara dimulai pukul 13.00 WIB dengan doa bersama yang dipusatkan di Pendopo Balai Desa Wolo. Prosesi diawali dengan khataman Tahlil, dan do'a yang dipimpin tokoh agama setempat. Warga tampak khidmat mengikuti jalannya doa, memohon agar Desa Wolo senantiasa diberi keberkahan, dijauhkan dari hal hal yang tidak di inginkan dan marabahaya, serta hasil pertanian semakin melimpah.
Usai doa bersama, warga menikmati kenduri sebagai simbol kebersamaan dan gotong royong. Setiap RT membawa ambeng berisi tumpeng, ingkung, dan hasil bumi untuk disantap bersama di halaman balai desa. Suasana guyub rukun terlihat jelas saat perangkat desa dan masyarakat duduk lesehan tanpa sekat.
Memasuki malam hari, acara puncak Gebyar Sedekah Bumi digelar. Sesuai tradisi Jawa, puncak acara diisi dengan pementasan seni ketoprak. Tahun ini Pemdes Wolo menggandeng grup Ketoprak Langen Budoyo Official yang membawakan lakon “Joko Tingkir Ngilangi Sengkolo”. Lakon tersebut mengisahkan perjalanan spiritual dan kepemimpinan Joko Tingkir dalam menghilangkan kesialan atau “sengkolo” yang menimpa negeri, sarat dengan pesan moral tentang kepemimpinan, keberanian, dan akhlak mulia.
Pentas ketoprak dimulai pukul 20.00 WIB dan berlangsung hingga dini hari. Panggung megah berdiri di lapangan depan balai desa, lengkap dengan gamelan, tata cahaya, dan kostum pemain yang memukau. Ratusan penonton dari Desa Wolo dan desa sekitar tampak antusias menyaksikan setiap adegan. Sesekali gelak tawa pecah saat adegan dagelan muncul, diselingi tepuk tangan meriah ketika adegan perang dan pitutur luhur disampaikan.
Dalam sambutannya sebelum pementasan, Suyantono menyampaikan harapan besar untuk Desa Wolo ke depan. “Melalui Sedekah Bumi ini, saya berharap Desa Wolo tambah maju, masyarakatnya semakin sejahtera, berakhlak mulia, dan selalu mendukung seluruh program pembangunan desa. Tanpa dukungan panjenengan semua, program desa tidak akan berjalan maksimal,” ungkap Kades Suyantono disambut tepuk tangan warga.
Ia juga mengapresiasi kekompakan seluruh elemen masyarakat yang bahu-membahu menyukseskan acara. Mulai dari persiapan panggung, konsumsi, keamanan, hingga kebersihan, semua dikerjakan secara swadaya oleh warga. “Inilah bukti nyata bahwa semangat gotong royong di Desa Wolo masih terjaga kuat,” imbuhnya.
Perwakilan Kecamatan Penawangan yang turut hadir juga memberikan apresiasi. Menurutnya, konsistensi Desa Wolo dalam menggelar Sedekah Bumi patut menjadi contoh bagi desa lain dalam melestarikan budaya sekaligus mempererat persatuan warga.
Tradisi Sedekah Bumi di Desa Wolo telah berlangsung turun-temurun sebagai ungkapan syukur petani atas hasil panen. Selain sebagai pelestarian budaya, kegiatan ini menjadi sarana konsolidasi sosial, ruang rembuk warga, serta media penyampaian informasi program desa. Dengan digelarnya Gebyar Sedekah Bumi 2026, Pemerintah Desa Wolo berharap nilai-nilai kearifan lokal tetap hidup dan diwariskan kepada generasi muda di tengah arus modernisasi.



Social Footer